GUr0GpM7BUd8GSW5Gfd0BUC8GA==
  • min3b.lampung@gmail.com
  • 085788797279

"Motivasi Guru yang Meredup: Saat Pengabdian Tak Lagi Dihargai"


oleh : Havizi Sayuti



Motivasi guru dalam proses pembelajaran memegang peranan penting dalam menentukan kualitas pendidikan di sekolah. Guru yang memiliki motivasi tinggi cenderung lebih antusias, kreatif, dan efektif dalam menyampaikan materi kepada siswa. Sebaliknya, motivasi yang rendah dapat berdampak negatif terhadap semangat belajar siswa dan pencapaian tujuan pendidikan. Sayangnya, di berbagai daerah dan jenjang pendidikan, masih banyak ditemukan guru yang menunjukkan gejala penurunan semangat dan antusiasme dalam mengajar.

    Rendahnya motivasi guru bukanlah permasalahan yang muncul begitu saja. Fenomena ini seringkali dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal yang saling berkaitan. Kondisi kerja yang kurang mendukung, beban administrasi yang berlebihan, hingga kurangnya penghargaan terhadap profesi guru menjadi beberapa alasan utama yang patut dicermati. Ketika guru merasa tidak dihargai secara profesional maupun finansial, semangat mereka dalam menjalankan tugas pun bisa menurun secara drastis.

    Di tengah sorotan publik terhadap mutu pendidikan nasional, satu hal yang kerap luput dari perhatian adalah kondisi psikologis dan motivasi para guru. Padahal, guru adalah ujung tombak pendidikan. Semangat dan antusiasme mereka di dalam kelas punya pengaruh besar terhadap semangat belajar siswa. Sayangnya, tak sedikit guru yang kini tampak kehilangan gairah dalam mengajar. Ini bukan hanya soal metode, tapi lebih dalam: menyangkut motivasi yang kian memudar.

    Kita tentu tidak bisa menyalahkan guru semata. Banyak dari mereka harus bekerja di bawah tekanan dari tuntutan administrasi yang menumpuk, minimnya penghargaan, hingga gaji yang tidak sebanding dengan tanggung jawab yang mereka pikul. Akibatnya, semangat mengajar yang dulu menyala-nyala perlahan meredup menjadi rutinitas harian yang hambar. Dalam kondisi seperti ini, sulit berharap munculnya pembelajaran yang inspiratif dan menyenangkan.

Beberapa faktor yang sering dilupakan adalah  :

Keterbatasan dalam pengembangan diri

Banyak guru merasa jalan mereka untuk terus belajar dan berkembang begitu sempit. Minimnya pelatihan, kurangnya akses terhadap teknologi, serta tidak adanya ruang untuk berinovasi membuat mereka terjebak dalam pola lama. Hal ini tentu berdampak pada rendahnya motivasi dalam menghadapi dinamika pembelajaran yang terus berubah.

Soal lingkungan kerja

Di beberapa sekolah, suasana kerja jauh dari kata mendukung. Hubungan antar guru yang kaku, kepala sekolah yang otoriter, atau kurangnya kepercayaan dari pihak manajemen sering membuat guru merasa sendirian dalam perjuangannya. Dalam atmosfer seperti ini, semangat bisa terkikis perlahan, dan rasa memiliki terhadap profesi pun ikut luntur.

    Oleh karena itu, sudah saatnya kita berhenti menuntut tanpa memahami. Rendahnya motivasi guru bukan sekadar masalah individu, tapi cerminan dari sistem pendidikan yang belum sepenuhnya berpihak pada mereka. Jika kita sungguh peduli pada kualitas pendidikan, maka perhatian terhadap kesejahteraan, pengembangan, dan penghargaan bagi guru harus menjadi prioritas utama.

    Kini saatnya kita meninjau ulang cara kita memperlakukan para guru. Kalau selama ini kita sibuk membahas kurikulum, teknologi pendidikan, atau metode belajar tanpa pernah menoleh pada kondisi para pengajar, maka kita sedang menanam benih kegagalan. Guru yang kehilangan motivasi akan sulit melahirkan generasi yang semangat belajar dan berpikir kritis.

    Solusi untuk masalah ini bukan sulap. Dimulai dari mengurangi beban administratif, meningkatkan kesejahteraan, memberi akses yang adil untuk pengembangan diri, hingga menciptakan iklim kerja yang positif. Hal-hal ini harus dikerjakan bersama oleh pemerintah, sekolah, masyarakat, dan tentu saja para guru itu sendiri. Tidak ada pendidikan yang hebat tanpa guru yang kuat dan berdaya.

    Karena pada akhirnya, kualitas pendidikan tak akan pernah lebih tinggi dari kualitas gurunya. Maka, jika kita benar-benar ingin membenahi pendidikan, mari kita mulai dari membenahi motivasi para pengajarnya.


Referensi

  1. Mulyasa, E. (2013). Menjadi Guru Profesional: Strategi Meningkatkan Kualifikasi dan Kualitas Guru di Era Global. Remaja Rosdakarya.

  2. Suyanto & Asep Jihad. (2012). Menjadi Guru Profesional: Strategi Meningkatkan Kualitas Guru di Era Globalisasi. Erlangga.

  3. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. (2021). Laporan Evaluasi Kinerja Guru Tahun 2020.

Info Madrasah

contact pizy

I would like to welcome you to our school and invite you to be part of our big family.

School Form

Popup Image